SEJARAH JEJANGKIT

by - August 28, 2018



            Kecamatan Jejangkit memiliki sejarah yang unik serta menarik untuk diketahui. Berawal dari lahan kosong yang tidak berpenghuni, namun sekarang menjadi desa yang masyarakatnya terdiri dari berbagai etnis dan budaya. Hal ini pula yang membuat Jejangkit memiliki sosial budaya yang sangat rural-agriculture karena sebagian besar masyarakatnya berasal dari sub rumpun banjar Hulusungai seperti Kandangan, Barabai, Amuntai, Rantau dan sebagian kecil Martapura.
            Pada awalnya Desa Jejangkit Pasar merupakan salah satu desa di Kecamatan Mandastana yang umurnya relatif sama tua dengan umur ibu kota kecamatan yakni sungai puntik. Sejak 1970-an, Jejangkit  sering disebut orang dengan gang buntu, sebutan kampung yang berada di ujung banua karena tidak ada jalur yag menghubugkan dengan perkampungan berikutnya(Arbain,2014). Namun pada tahun 1990-an mulai dibuat jalan tembus ke sungai gampa kecamatan Rantau badauh, ke desa Puntik dalam kecamatan Mandastana dan  ke Simpang Lima rendah demikian juga sebaliknya.
Desa Jejangkit Pasar memiliki luas sekitar 18 km persegi, sebagian besar yaitu 12,6 km persegi (68,8%) adalah tanah paung (lahan yang tidak digarap) yang ditumbuhi rumput purun dan pohon galam. Sedangkan sebagian kecil 5,4 km persegi (31,2%) berupa lahan pertanian dan perkebunan.
Pendapatan warga setempat adalah berasal dari menanam padi, mencari ikan, menangkap burung dan menebang kayu sekitar ujung desa. Namun penghasilan masyarakat di jejangkit saat ini menurun karena berbagai aspek salah satunya bertambahnya keasaman sungai yang menjadi saluran irigasi sawah mereka. Hal ini pula yang mempengaruhi masyakat untuk melakukan mobilitas kerja. Yaitu berpindah lapangan kerja.
Dari segi demografi, penduduk Desa Jejangkit Pasar berjumlah 1.180 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 316.
            Memandang dinamika sosial budaya masyarakat maka kita akan berkenalan dengan kepala padang yakni Datu Palung sekitar tahun 1960-an beliau pertama kali membuka kampung Jejangkit ini. Berpusat di Desa Jejangkit Pasar datu Palung membawa serta keluarganya (bubuhan kandangan) membuat lahan pertanian yang awalnya hutan belantara. Sekitar 4 buah rumah besar mereka buat pada awal membuka lahan pertanian. Seiring berjalannya waktu sanak keluarganya berdatangan hingga sekarang. Selain Sanak keluarga, juga ada orang lain yang ingin ikut mengolah lahan pertanian juga datang ke Jejangkit. Setiap ada warga yang datang maka melapor kepada Datu Palung.
            Kemakmuran yang ada di daerah Jejangkit ini menjadi sorotan para perantau untuk datang kesana mencari usaha. Berbagai usaha yang menjanjikan di Jejangkit menjadi alasan mereka berdatangan dan memilih untuk menetap menjadi penduduk.
            Namun berbeda dengan yang terjadi sekarang ini, penghasilan masyarakat sepuluh tahun terakhir banyak yang menurun. Penghasilan dari pertanian tidak bisa menjadi penopang kebutuhan hidup lagi, banyak masyarakat yang melakukan mobilitas kerja.
            Adapun data pekerjaan yang di lakukan masyarakat, sebagai berikut:
No
Jenis Pekerjaan Utama
Tingkat Pendapatan Responden
Total
100-250 Ribu
260-550 Ribu
560-750 Ribu
>1 Juta
1.
Bertani
6,7 %
76,7%
-
-
83,3%
2.
Buruh Tani
-
10%
-
-
10%
3.
Mendulang Emas
-           
-           
3,3%
-
3,3%
4.
Berdagang
-
-
-
3,3%
3,3%
Total
6,7%
86%
3,3%
3,33%
100%
Sumber: Arbain, 2004
            Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa pendapatan masyarakat yang dominan adalah 260-550 ribu perbulan. Menurut penuturan warga penghasilan tersebut dicukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan.
Melihat keadaan pekerjaan yang semakin menipis ditambah dengan tekanan ekonomi maka banyak masyarakat yang melakukan mobilitas pekerjaan. Dulu mereka yang datang namun sekarang mereka yang pergi. Mobilitas pekerjaan ini dilakukan dengan dua cara yaitu, berpindah pekerjaan namun menetap di Jejangkit. Dan pergi keluar dari Jejangkit, adapun daerah yang dipilih oleh masyarakat adalah katingan, Kalteng, Anjir/Tamban, Gambut, Banjarmasin, Aluh-aluh, Haraan Kota Baru, dan Cempaka Martapura.
(Referensi:
Arbain, Taufik. 2014. Orang Jejangkit.Banjarmasin:Pustaka banua.)


You May Also Like

0 comments