Kecamatan Jejangkit memiliki sejarah yang unik serta
menarik untuk diketahui. Berawal dari lahan kosong yang tidak berpenghuni,
namun sekarang menjadi desa yang masyarakatnya terdiri dari berbagai etnis dan
budaya. Hal ini pula yang membuat Jejangkit memiliki sosial budaya yang sangat
rural-agriculture karena sebagian besar masyarakatnya berasal dari sub rumpun
banjar Hulusungai seperti Kandangan, Barabai, Amuntai, Rantau dan sebagian
kecil Martapura.
Pada awalnya Desa Jejangkit Pasar merupakan salah satu
desa di Kecamatan Mandastana yang umurnya relatif sama tua dengan umur ibu kota
kecamatan yakni sungai puntik. Sejak 1970-an, Jejangkit sering disebut orang dengan gang buntu,
sebutan kampung yang berada di ujung banua karena tidak ada jalur yag
menghubugkan dengan perkampungan berikutnya(Arbain,2014). Namun pada tahun
1990-an mulai dibuat jalan tembus ke sungai gampa kecamatan Rantau badauh, ke
desa Puntik dalam kecamatan Mandastana dan ke Simpang Lima rendah demikian juga
sebaliknya.
Desa
Jejangkit Pasar memiliki luas sekitar 18 km persegi, sebagian besar yaitu 12,6
km persegi (68,8%) adalah tanah paung (lahan yang tidak digarap) yang ditumbuhi
rumput purun dan pohon galam. Sedangkan sebagian kecil 5,4 km persegi (31,2%)
berupa lahan pertanian dan perkebunan.
Pendapatan
warga setempat adalah berasal dari menanam padi, mencari ikan, menangkap burung
dan menebang kayu sekitar ujung desa. Namun penghasilan masyarakat di jejangkit
saat ini menurun karena berbagai aspek salah satunya bertambahnya keasaman
sungai yang menjadi saluran irigasi sawah mereka. Hal ini pula yang
mempengaruhi masyakat untuk melakukan mobilitas kerja. Yaitu berpindah lapangan
kerja.
Dari
segi demografi, penduduk Desa Jejangkit Pasar berjumlah 1.180 jiwa dengan
jumlah kepala keluarga 316.
Memandang dinamika sosial budaya masyarakat maka kita
akan berkenalan dengan kepala padang yakni Datu Palung sekitar tahun 1960-an
beliau pertama kali membuka kampung Jejangkit ini. Berpusat di Desa Jejangkit
Pasar datu Palung membawa serta keluarganya (bubuhan kandangan) membuat lahan
pertanian yang awalnya hutan belantara. Sekitar 4 buah rumah besar mereka buat
pada awal membuka lahan pertanian. Seiring berjalannya waktu sanak keluarganya
berdatangan hingga sekarang. Selain Sanak keluarga, juga ada orang lain yang
ingin ikut mengolah lahan pertanian juga datang ke Jejangkit. Setiap ada warga
yang datang maka melapor kepada Datu Palung.
Kemakmuran yang ada di daerah Jejangkit ini menjadi
sorotan para perantau untuk datang kesana mencari usaha. Berbagai usaha yang
menjanjikan di Jejangkit menjadi alasan mereka berdatangan dan memilih untuk
menetap menjadi penduduk.
Namun berbeda dengan yang terjadi sekarang ini,
penghasilan masyarakat sepuluh tahun terakhir banyak yang menurun. Penghasilan
dari pertanian tidak bisa menjadi penopang kebutuhan hidup lagi, banyak
masyarakat yang melakukan mobilitas kerja.
Adapun data pekerjaan yang di lakukan masyarakat, sebagai
berikut:
No
|
Jenis Pekerjaan Utama
|
Tingkat Pendapatan Responden
|
Total
|
|||
100-250 Ribu
|
260-550 Ribu
|
560-750 Ribu
|
>1 Juta
|
|||
1.
|
Bertani
|
6,7 %
|
76,7%
|
-
|
-
|
83,3%
|
2.
|
Buruh
Tani
|
-
|
10%
|
-
|
-
|
10%
|
3.
|
Mendulang
Emas
|
-
|
-
|
3,3%
|
-
|
3,3%
|
4.
|
Berdagang
|
-
|
-
|
-
|
3,3%
|
3,3%
|
Total
|
6,7%
|
86%
|
3,3%
|
3,33%
|
100%
|
|
Sumber: Arbain, 2004
Berdasarkan
data diatas dapat diketahui bahwa pendapatan masyarakat yang dominan adalah
260-550 ribu perbulan. Menurut penuturan warga penghasilan tersebut
dicukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan.
Melihat
keadaan pekerjaan yang semakin menipis ditambah dengan tekanan ekonomi maka
banyak masyarakat yang melakukan mobilitas pekerjaan. Dulu mereka yang datang
namun sekarang mereka yang pergi. Mobilitas pekerjaan ini dilakukan dengan dua
cara yaitu, berpindah pekerjaan namun menetap di Jejangkit. Dan pergi keluar
dari Jejangkit, adapun daerah yang dipilih oleh masyarakat adalah katingan,
Kalteng, Anjir/Tamban, Gambut, Banjarmasin, Aluh-aluh, Haraan Kota Baru, dan
Cempaka Martapura.
(Referensi:
Arbain, Taufik. 2014. Orang Jejangkit.Banjarmasin:Pustaka
banua.)



